| Written by Cabinoo, on 27-01-2008 00:00 |
|
|
| Average user rating |
No rating |
|
| Views |
797  |
|
|
|
Artist: The Super Insurgent Group Of Intemperance Talent (The SIGIT) Album: Visible Idea Of Perfection Type: Studio Album Released: 2006 Recorded: - Genre(s): Rock Length: 14 lagu (42:05) Label: Ffcuts Records Producer(s): Budianto Setiadi, The SIGIT
Visible Ide Of Perfection adalah studio album dari grup rock The Super Insurgent Group Of Intemperance Talent. Dirilis tahun 2006 oleh label Ffcuts Records. Album ini direkam dan dimix oleh Budianto Setiadi, yang sekaligus menjadi produser, di Massive Studio. Mastering album oleh Andri Mandera dan Budianto Setiadi di Studio 8 Mastering Studio.
Music Concept:
Album Visible Ide Of Perfection berisikan lagu-lagu rock/hard rock, old fashioned rock, era 1970-1980-an.
Track List:
Semua track ditulis oleh The SIGIT.
| 01. | Black Amplifier
| 2:36
| | | 02. | Horse
| 2:07
| | | 03. | No Hook
| 2:43 | | | 04. | New Generation
| 3:00
| | | 05. | Nowhere End
| 3:46
| | | 06. | Live In New York
| 2:32 | | | 07. | Clove Doper
| 2:45
| | | 08. | Soul Sister | 3:49 | | | 09. | Save Me | 2:41 | | 10.
| Let It Go | 3:45 | | | 11. | All The Time | 3:18
| | | 12. | Alright
| 3:23
| | | 13. | Satan State
| 3:34
| | 14.
| Black Amplifier (Acoustic)
| 2:06
| |
Personel:
- Rektivianto Yoewono - vokal, gitar
- Aditya Bagja Mulyana - bass
- Farri Icksan Wibisana - gitar
- Donar Armando Ekana - drums
Additional Personel:
- Jamie Aditya - background vocal “Nowhere End”
- Gino H - background vocal “Black Amplifier”
- Peloy - footstomp “Live In New York”
- Mita, Fitri, Mona - hands clap “Nowhere End”
Cover Art:
Cover album adalah lukisan art deco “Perfect View” oleh Dadan Setiawan. Fotografi album oleh Fred.
Editor's comment
| 7/10 |
Bergembiralah, wahai para rocker! Rock n roll terbukti tak pernah mati. Kali ini The SIGIT menggali kuburan-kuburan dan membangkitkan kembali old fashioned rock era tahun 1970-1980an dalam album Visible Idea Of Perfection, yang akan menjadi hantu penggetar party-party rock yang belakangan tergeser oleh hingar bingar dentum musik-musik dance. Daftar Lagu Black Amplifier. Track ini dibuka dengan petikan gitar yang menggigit telinga, lalu ditimpal kompak dengan riff, bass dan gebukan drum. Sebuah track pembuka yang cukup mengesankan. Rock bites! Ada solo gitar. Ada riff hard rock. Ada distorsi. Ada chorus (yang buruk). Tiba-tiba The SIGIT terasa begitu akrab. Horse. Rock blues klasik yang simple dan menarik. Lagi-lagi bagian chorus “uuuhhh” kurang tenaga, malah menjadi gangguan. Nomor ini terlalu singkat, karena semestinya The SIGIT bisa lebih organik dalam mengembangkan riff. No Hook. Rock.. rock.. dengan tempo dipercepat. Meski berteriak “no hook”, justru nomor ini dipenuhi hook yang siap mengajak aksi gila-gilaan. New Generation. Yeah.. nomor yang easy dan ringan, tapi tak kalah kasar. Naah, kami suka bagian “uuu” di nomor ini. Rekti maunya bernyanyi dengan aksen ngerock nan kasar, namun hasilnya malah terkesan dibuat-buat dan aneh. Secara keseluruhan, ini nomor yang asyik buat ngegroove. Nowhere End. Nomor yang menarik dengan variasi-variasi sound. The SIGIT tampaknya benar-benar membuka cukup banyak literatur, bahkan Beatles pun tak luput dikutip. Live In New York. Nomor akustik yang ngerock. Ya, rock tidak harus distorsi dan menarik otot leher kencang-kencang. Rock is about expression. It’s about soul. Mestinya handclap yang ada di ‘Nowhere End’ dipasang di nomor ini. Ya, nomor akustik ini bisa lebih menarik, jika dimainkan lebih lively, mengurangi beban sound gitar, Rekti sedikit mengerem aksen bule anehnya yang tak perlu itu dan mengedepankan surround yang akrab dan togetherness. Clove Doper. Tanpa basa-basi, The SIGIT langsung menggebrak, dengan kecepatan hard rock, metal yang kasar dan tebal. Di nomor ini The SIGIT bukan anak manis. Habiskan semua energi kalian. Soul Sister. Dibuka dengan ngeblues lalu riff rock, lalu distorsi tebal jreeeng, metal. Pembukaan yang menarik. Lagunya juga asyik. Hahahaha... lagi-lagi kami tergelak mendengar aksen bule Rekti yang seolah overacting. Tapi, itu tak mengganggu lagu. That’s rock! You may do whatever your soul wanna do. Save Me. The SIGIT tak lupa menulis lagu sebagai jendral lonjak-lonjak di pangung-panggung konser. Nomor ini bisa jadi anthem untuk memeras keringat di konser-konser. Let It Go. Awalnya lagu bergerak sedang, lalu naik penuh kegeraman. Rekti benar-benar membuat mikrophone basah dengan air ludahnya, persis remaja Inggris kehilangan akal. Ironisnya, di belakang sana gitar dan rhtym bermain tenang-tenang penuh disiplin. All The Time. Tiba-tiba sound bergerak ke arah yang berbeda. Kami baru menyadari ternyata permainan bass dan drums The SIGIT menarik perhatian juga. Kami rasa The SIGIT punya modal cukup kuat untuk tak sekedar jadi band beberapa musim. Alright. Nomor dengan riff gitar yang ribut dan lebar, dengan vokal yang kasar. Di tengah lagu, vokalnya melembut lalu musik berubah arah dengan sedikit bridge call and shout drum dan gitar yang kalau dibawa ke panggung bisa sedap dinikmati. Satan State. Hard rock, tempo dinaikkan, speed, plus asesories mircophone effect yang lumayan buat variasi. Black Amplifier (Accoustic). Kami tidak suka nomor ini. Tidak ada ‘Black Amplifier’ dalam acoustic ‘Black Amplifier’. Mungkin sebaiknya dengan judul lain. Vokal dan kocokan gitar tampak tak sejodoh. Atau, mungkin Rekti terlalu overacting lagi? Album Yup, ini sebuah album yang aktif, penuh energi dan keringat. The SIGIT tak hendak membuat kita bisa duduk tenang. Dengan rock yang groovy, The SIGIT menyeret kita untuk bertindak, berteriak habis-habisan dan bergerak liar. The SIGIT mampu menyuntikkan gairah dance ke dalam aliran riff-riff rock klasik; menjadikan studio album ini bisa jadi teman garage party. Kami memuji The SIGIT yang dalam album ‘Visible Ide Of Perfection’ ini mampu memainkan riff dan sound rock klasik dengan begitu baiknya. Mereka telah menjelajahi dan membuka literatur musik rock dengan lengkap. Mereka sepertinya telah banyak mendengar Led Zeppelin, Beatles, Black Sabbath, Deep Purple, Judast Priest, Rolling Stone dan puluhan jawaran rock n roll dan metal lain. The SIGIT bukan hanya mendengar, melainkan juga menulis koleksi ulang riff cukup banyak. Pantas jika The SIGIT menjabat sebagai pewaris yang kompeten, di samping band-band manca negara lain, semacam Audioslave atau Wolfmother. Dari segi skill, tidak perlu keraguan. Ke empat personel The SIGIT punya modal bagus untuk berjam-rock dengan siapa pun. Lantas kenapa hanya dua bintang, bukannya tiga atau malah empat? Otentisitas karakter! Mungkin karena terlalu banyak membaca partitur orang lain, The SIGIT seolah melupakan bahwa tugas utama mereka bukanlah menjadi cover musik rock era 70-80an. Misi terpenting The SIGIT adalah membangun karakter otentik musik mereka sendiri. Ini memang perlu kerja lebih keras, namun kami yakin, ini akan menjadi perjalanan yang jauh lebih mengasyikkan sebagai sebuah band. Tentu dengan resiko perpecahan internal akibat pertarungan idea. Namun, juga dengan resiko kesolidan karena membangun sebuah sejarah. Cabinoo 27 Januari 2008 |
|