| Written by Cabinoo, on 09-03-2008 00:00 |
|
|
| Average user rating |
No rating |
|
| Views |
1450  |
|
|
|
Artist: Burgerkill Album: Beyond Coma And Despair Type: Studio Album Released: Agustus 2006 Recorded: Maret - April 2006 Genre(s): Hardcore, Metalcore Length: 12 lagu (57:08) Label: Revolt! Records Producer(s): Yayat Achdiyat
Beyond Coma And Despair adalah studio album dari grup hardcore asal Bandung: Burgerkill. Album ini dirilis tahun 2006 bersama label Revolt! Record. Recording dan mixing di Massive Studio pada Maret-April 2006 oleh Yayat Achdiyat yang juga bertindak sebagai produser. Mastering juga oleh Yayat Achdiyat di Diablo Studio, pada Juni 2006.
Music Concept:
Album Beyond Coma And Despair membawakan nomor-nomor metal dari aliran metalcore, hardcore, yang didominasi oleh permainan gitar, bas dan drum yang cepat.
Album Background:
Sekitar tiga minggu sebelum album ini dirilis, Ivan “Scumbag” Firmansyah, vokalis Bugerkill meninggal dunia akibat radang otak.
Track List:
Semua musik ditulis oleh Burgerkill, kecuali ‘Atur Aku’ oleh Puppen. Semua lirik ditulis oleh Ivan Scumbag, kecuali ‘Atur Aku’ oleh Arian 13.
| 01. | Darah Hitam Kebencian | 6:28 | | | 02. | We Will Bleed
| 3:33 | | | 03. | Shadow Of Sorrow
| 4:07 | | | 04. | Laknat
| 3:17 | | | 05. | Angkuh
| 4:36 | | | 06. | Suffer To Death
| 5:50 | | | 07. | Anjing Tanah
| 6:46 | | | 08. | Last Escape
| 4:18 | | | 09. | Agony Remain Insane
| 2:48 | | 10.
| Atur Aku
| 4:33 | | | 11. | Beyond Coma And Despair
| 4:56 | | 12.
| Unblessing Life | 5:45 | |
Personel:
- Ivan Scumbag - lead vocals
- Ebenz - rhythm guitar, vocals
- Agung - lead guitar, acoustic guitar
- Andris - drums, bass
Additional Personel:
- Aki Amenk - growl ‘Atur Aku’, ‘Shadow Of Sorrow’
- Ardiles Septuaginta - violin ‘Beyond Coma And Despair’
- Nia Ranadhania Aladin - violin ‘Beyond Coma And Despair’
- Rara Utami - keyboards ‘Anjing Tanah’, ‘Beyond Coma And Despair’
Cover Art:
Pengarah art, cover dan desain oleh Collapse Art Studio. Foto-foto band oleh Erwin Cherawan.
Editor's comment
| 10/10 |
Mungkin kami akan jadi berlebihan dalam mereview album Beyond Coma And Despair dari Bugerkill ini. Tentu saja, setiap review takkan obyektif. Namun sebaiknya memang tidak terlalu emosional. Sayangnya album ini sarat dengan kisah yang mengusik perasaan. Bahkan mendengar album ini hampir dua tahun setelah rilis perdananya, kami tetap terganggu; merinding, tergetar, malah di akhir album kami harus menahan nafas. Inilah album metal terdahsyat yang pernah dirilis oleh musisi Indonesia. Daftar Lagu Darah Hitam Kebencian. Kedahsyatan itu langsung terasa di track pertama. Gebukan drum Andris menghajar bertubi-tubi, ya sangat cepat, tanpa kenal lelah. Duet gitar Ebenz dan Agung membawa lagu ini ke jurang-jurang gelap naik turun tanpa ada kesempatan untuk menoleh ke belakang. Dan, ketika Ivan meneriakkan penderitaannya, sontak berdiri bulu kuduk. Ada perkembangan yang amat pesat dalam penulisan lagu Burgerkill. Hardcore yang ganas namun indah. Produksinya pun jempolan. We Will Bleed. Masuk dengan riff klasik hard rock, yang kemudian digeber kencang, lagi-lagi dengan serbuan drum dan bass yang penuh keringat. Kemudian lagu bergerak gemilang, bercahaya, seorang pahlawan bersedia mengorbankan dirinya. Lagi-lagi bulu kuduk ini merinding. Dengan terburu-buru kami ingin menyematkan bintang 5 pada album ini. Shadow Of Sorrow. Tidak ada kata melamban. Semua bergerak kencang, seolah berburu dengan kesempatan. Ya, kesempatan terakhir bagi Ivan, di sisa-sisa nafas, untuk membuktikan bahwa ia benar. Tiba-tiba kami tersadar bahwa bass dan drum bermain luar biasa padu. Ternyata Andris, sang bassis, kini memegang stik komando gebukan. Laknat. Tanpa banyak basa-basi Gurgerkill langsung menggempur, blitzkreig. Di sertai teriakan-teriakan ganas, pengoyak nyawa. Di tengah lagu, gitar, drum dan bass saling berpacu. Namun Burgerkill tak hendak berlama-lama memamerkan kebanggaan individu. Burgerkill tampaknya lebih tertarik bagaimana musik bergerak terus, menampar telinga dengan scene-scene baru. Dan, musik pun terdengar jauh lebih menarik. Angkuh. Musik sedikit lebih manis. Dibuka dengan beat hard rock yang menggoyangkan kepala. Tapi, jangan terkecoh. Burgerkill tak mau anda bersenang-senang begitu saja di atas kehancuran yang mereka ciptakan. Teriakan Ivan pun menebarkan kecemasan, meski secara keseluruhan nomor ini terasa dancey. Lagi-lagi, salut buat Achdiyat atas ramuannya, terutama saat suara cymbal bagai pedang tajam yang menyayat dan dentuman megah di akhir lagu (ingat! efek ini hanya terasa nikmat jika anda beli cd asli). Suffer To Death. Pembukaan yang asyik, dan siap mengomando seluruh stadium crowd untuk berkeringat habis-habisan. Ya, ini bisa jadi nomor gahar di setiap panggung, karena selain gebukan yang memabukkan kepala, permainan tempo yang variatif, juga ini saatnya untuk membakar gitar, sebelum permainan akustik menghibur wajah-wajah yang lelah. Anjing Tanah. Agung mencoba menghibur dengan petikan akustiknya. Hey! Itu manis dan berhasil menenangkan hati kami. Metalhead pun ternyata tahu pasti bagaimana bermusik sambil duduk sempurna di depan partitur. Tapi itu tidak lama. Ivan dan Ebenz segera memimpin pasukan anjing tanah untuk membikin kegemparan lain. Serbuan yang cepat dan ganas itu tiba-tiba diakhiri dengan permainan anggun gitar klasik. Last Escape. Tampaknya Andris lebih suka menjabat sebagai drummer. Ia benar-benar bermain sangat ketat dan mengesankan. Meski begitu, ia tak lupa untuk tetap memberikan betotan bass yang menarik di beberapa sesi. Setelah bergelap-gelap, Burgerkill memainkan lagi nada-nada kegemilangan. Sedangkan Ivan masih tetap pada teriakan yang berdarah-darah. Orang ini benar-benar tampil habis-habisan. Lagi-lagi nomor yang ganas. Agony Remain Insane. Justru yang paling menarik perhatian kami adalah lirik “I’m stuck in my autumn soul” Sebuah nomor singkat yang menegaskan inilah hardcore yang semestinya. Kalau kalian tak cukup nyali untuk menderita, jangan mainkan hardcore. Atur Aku. Pedal gas diinjak semakin dalam. Dalam beberapa segmen kita boleh trance bersama kecepatan dentuman dan riff yang dimainkan. Jelas ini bukan lirik Ivan. Lirik ini terlalu optimis dan keras kepala. Ya, pernyataan khas dari orang yang berhenti dewasa di usia 15, Arian 13 dari Seringai. Bagaimana pun album ini memerlukan teks seperti ini. Beyond Coma And Despair. Sebuah nomor instrumental yang cinematik. Memadukan kecantikan dan keganasan. Ballad dan distorsi. Harmoni dan speed. Gesekan violin yang mengiris dan hantaman di kepala. Sebuah nomor yang tanpa sengaja jadi requime yang indah dari Burgerkill untuk pendirinya sendiri, Ivan ‘Scumbag’ Firmansyah. Unblessing Life. Kami ingat, saat pertama kali mendengar nomor ini. Di akhir lagu, setelah nafas Ivan terputus-putus, kami harus melepas kacamata menahan sesuatu yang berkaca-kaca di sana, agar kami tak jadi cengeng. Lalu, kami tak ingin mendengar album ini sampai beberapa hari kemudian. Di nomor ini, Ivan Scumbag benar-benar menunjukkan secara nyata, apa itu unblessing life. Tepatnya, hidup dengan penderitaan yang sesungguhnya. Maka, nomor ini adalah blessing terdahsyat bagi semua dedikasi dari Ivan dan Burgerkill bagi kehebatan musik metal Indonesia. Album Kami pikir, puncak talenta bermusik Burgerkill adalah pada album Berkarat yang diganjar penghargaan AMI Award tahun 2004. Kami salah. Burgerkill masih di jalur pendakian. Bukan hanya kualitas produksi yang tetap apik (salut buat Yayat Achdiyat, mixing dan mastering), penulisan lagu Burgerkill pun semakin mengkilap. Rasanya inilah album musik metal terindah sekaligus terdahsyat yang pernah dirilis oleh musisi metal Indonesia. Musik dimainkan begitu progressive namun tetap pada akar musik metal klasik. Kalau toh ada sedikit keberatan, ada pada sound drum yang kurang tebal (mungkin jika lebih tebal sedikit saja, maka rentetan gebukan drum itu jadi terlalu riuh dan mengacaukan sound lain?). Tapi itu bukan gangguan besar. Secara total, kami lebih kata puas. Di lain sisi, di album ini Burgerkill, melalui Ivan Scumbag, benar-benar menunjukkan secara aktual apa itu penderitaan. Kepedihan itu hadir begitu nyata dan bermakna manis, sehingga berulang kali kami memegang tengkuk. Ivan dengan tepat mengisi layer vokal sesuai dengan musik dan apa yang ada dalam dirinya. Darah katanya, maka darah itu ada. Hail...!! Cabinoo 9 Maret 2008 |
|