| Written by Cabinoo, on 12-04-2008 00:00 |
|
|
| Average user rating |
No rating |
|
| Views |
262  |
|
|
|
Artist: Death Vomit Album: The Propechy Type: Studio Album Released: 2007 Recorded: - Genre(s): Deathmetal Length: 9 lagu (29:33) Label: Rottrevore Records Producer(s): Dwinanda Satrio
The Propechy adalah studio album dari grup band beraliran deathmetal asal Yogyakarta, Death Vomit. Album ini dirilis oleh Rottrevore Records tahun 2007. Diproduseri oleh Dwinanda Satrio. Direkam pada 6 Mei dan 13 Mei 2006 di Avila Studio, Yogyakarta. Mixing dan mastering pada 17 Mei dan 24 Mei 2006 di Bintang 41 Studio, Bandung. Remastering oleh Toyib Nazarik di Nangningnung Studio.
Music Concept:
Musik dalam album The Propechy beraliran metal, dengan sub-genre deathmetal, yang mengandalkan permainan musik cepat, distorsi, vokal menggeram (growl) serta lirik-lirik yang gelap.
Track List:
Semua musik dan lirik ditulis oleh Death Vomit.
| 01. | Anthem To Hate
| 3:40
| | | 02. | Flesh And Blood
| 3:36
| | | 03. | Summon Infernal Spirit
| 3:09
| | | 04. | Hatred Creation
| 2:26
| | | 05. | Regorging The Selimated
| 3:53
| | | 06. | At Your Dying Faith
| 3:37
| | | 07. | Senseless Revenge
| 3:30
| | | 08. | Beyond The Black
| 3:40
| | | 09. | Crimunally Insane
| 2:02
| |
Personel:
- Sofyan Hadi - vocals, guitars
- Oki Haribowo - bass, guitars
- Roy Agus - drums
Additional Personel:
Ariel Yoga - guitar
Cover Art:
Artwork dan layout oleh Bakuh. Photography oleh Kenci “Satan Boy” dan Ardinata. Logo Death Vomit oleh Pandu.
Contact:
Death Vomit Jl. Janti Veteran III/28 Yogyakarta – 55281 Indonesia
Editor's comment
| 7/10 |
Jangan terlalu berharap ada satu lagu pun dari album ini yang bakal diputar di stasiun-stasiun radio terkemuka (kecuali mereka mau menderita gangguan syaraf), apalagi menikmati kehormatan masuk di jajaran top ten chart televisi. Nggak bakal...! Ini adalah death metal bung! Musik manusia melata yang hidup di dunia bawah tanah, lorong-lorong gelap, liang-liang kubur. Ya!, kaum underground sejati. Maka, ketika sebuah album death metal anak negeri, Death Vomit, bertitle The Propechy ini tiba-tiba terpampang di sebuah toko musik dalam mall nan sejuk, tak ada alasan untuk tidak segera meraihnya dengan penuh kegembiraan. Terima kasih untuk toko musik dan distributor mainstream, karena berkenan mensejajarkan musik yang penuh daya rusak ini dengan musik-musik lain (yang sebenarnya juga punya daya rusak yang tak kalah hebat). Daftar Lagu Anthem To Hate. Tak ada percakapan basa-basi. Death Vomit langsung mengoyak telinga dengan local growl, riff metal yang dimainkan berat, drum dan bass yang cepat. Track ini cukup menarik, karena Death Vomit tidak melulu adu kebut. Tempo dimainkan naik turun: cepat, melambat, cepat lalu super cepat. Bagian akhir track ditempeli dengan clip entah dari movie apa (ada baiknya Death Vomit memberikan credit titlenya) yang memuat propaganda klise: “sometimes death is better” Flesh And Blood. Bass drum dihajar secepat mungkin. Ya, begitu cepat, sampai-sampai anda bisa mencapai kondisi trance saat memainkannya sendiri. Tak mau kalah, setelah memberikan sedikit rif-rif yang cukup manis, kemudian gitar dipetik tremolo. Sebuah penyiksaan terhadap jaringan otot anggota tubuh. Untuk membuat suasana tidak melelahkan, snare drum dipukul variatif bersama cymbal yang ngeblasting di sana-sini. Summon Infernal Spirit. Kali ini snare drum yang dihajar rapat. Gitar dan bass bermain lebih cepat. Nomor yang ganas, cepat, meliuk-liuk, namun tetap menampilkan sebuah kemegahan melalui beberapa riff metal yang gagah. Kami suka nomor ini. Hatred Creation. Track yang rumit dan kompleks. Musik berubah-ubah seolah tak terkendali. Kecepatan berkelok-kelok. Instrument meluap silih berganti. Growl menggeram di saat-saat yang tak mudah diduga. Beranggapan bahwa ini sebuah kengawuran adalah pelecehan. Inilah dunia yang semestinya terlihat: kekacauan, seleksi alam random, volatil, yang secara kontradiktif tergenggam dalam komando besar harmoni. Ya, inilah saat yang tepat untuk memahami ideologi death metal kaum bawah tanah. Regorging The Selimated. Death Vomit selalu ada di dalam setiap musuh-musuh anda. Setelah beradu gigi, lagu diakhiri dengan cara yang sedikit beda. Riff gitar dan bass seolah kehabisan keringat, sedangkan di belakang bass drum masih memberondong tanpa sedetik pun kekurangan amunisi. At Your Dying Faith. Di tengah sekaratnya keyakinan dan frustasi akut serta penolakan pada takdir yang begitu sia-sia, Death Vomit memainkan musiknya dengan bercanda gurau. Sebuah canda yang tetap bergemuruh, ribut, kencang, dan tentu menyakitkan. Senseless Revenge. Hey, tiba-tiba gitar dimainkan tak biasa. Ada sedikit lengkingan yang menusuk telinga. Sebuah lengkingan kebencian, dendam, dan dengki tak terkira. Sebuah pernyataan politis yang mengerikan dan penuh kekerasan. Namun, apakah ini yang membuat death metal tak menikmati ‘hidup normal’ di gemerlap dunia hiburan? Mestinya tidak, bukankah ribuan film (yang didukung oleh musik-musik populer) yang jauh lebih keji dan mengerikan mudah di dapat di layar televisi? Bukankah pula, kekerasan adalah bagian normal dari keterhiburan kita? Beyond The Black. Musik semakin cepat, kencang, pekat dan ketat. Tak ada tanda-tanda tekanan mengendur. Justru kali ini Death Vomit menyebarkan propaganda yang bakal membuat merah muka para pengkothbah. Selalu ada sisi gelap yang tersembunyi di balik kata-kata indah janji kegemilangan. One man’s fear is another man’s truth. Semua kegeraman ini disemburkan melalui musik yang bisa memecahkan bisul-bisul nanah di telinga anda. Crimunally Insane. Awalnya musik berjalan lambat. Kami pikir, ini sesi outro yang baik untuk mengendurkan semua ketegangan. Meski relatif paling lambat, namun Death Vomit masih membuat semua alat menderita tremor akut. Beberapa saat gitar melengking seperti perempuan setan yang meleleh setelah dihajar tanpa cukup jeda. Syukurlah, akhirnya semua penyiksaan ini berakhir. Jika anda ternyata menemukan sedikit kenikmatan di balik penderitaan, sila putar ulang album ini. Kami baru merasa cukup setelah mendengar album ini tak kurang dari tujuh kali putaran. Modiar nggak? Album Pertama, anda perlu punya stereo set yang cukup baik untuk bisa menikmati album ini. Mendengar album ini melalui earphone cukup membantu. Tapi jangan di jalan raya karena mungkin anda akan kesulitan membedakan mana deru motor, mana deru musik. Kami rasa, keluhan kami ada pada kualitas soundnya. Kedua, jika anda adalah golongan mainstream dan belum pernah teracuni oleh musik-musik underground, terutama aliran death metal, ada baiknya anda berimajinasi terlebih dahulu: suguhan musik metal yang ruwet, riuh dan dimainkan dengan sangat cepat, suara penuh distorsi, double bass drum yang memberondong kencang, vokal yang menggeram seperti suara kodok gemuk jelek di film kartun, tak ada singalong atau nada-nada manis yang melenakan telinga, lirik yang gelap tentang kematian dan hal-hal buruk yang tak patut bagi anak-anak. Okay? Naikkan imajinasi anda ke level yang lebih ekstrim dari yang anda kira. Siap? Selamat datang di acara Death Vomit. Death Vomit nyaris memberikan semua hal yang kita inginkan dari death metal dan ideologi kaum underground. Struktur lagu yang rumit, kecepatan permainan manual yang menakutkan, keributan yang dimainkan rendah agar merasuk tanpa sadar ke syaraf-syaraf kengerian kita, berondong hentakan yang menghancurkan, tak ketinggalan lirik-lirik penuh kebencian, kekerasan dan kengerian. Musik ditulis cukup baik, di atas rata-rata penilaian kami, namun belum cukup memuaskan selera progressivitas kami. We think, that’s allright. Cabinoo 12 April 2008 |
|